"Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (Al-Baqarah: 169).
“Wahai orang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.” (Surah al-Hujurat, ayat 6)
Di kemaskini post pada 31/7/2015 Pada jam 23:40pm Kuala Lumpur

Tuesday, April 5, 2011

Kriteria Ulama dan Ilmunya

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRnNzxlPDUHy1vQaZzbbMEslNCJpQXgvqelzlHeSSuI-rPzSNiDMg
oleh : Ustadz Ahmad Sarwat, Lc.
Secara bahasa, kata ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘aalim. ‘Aalim adalah isim fail dari kata dasar:’ilmu. Jadi ‘aalim adalah orang yang berilmu, maksudnya ilmu syariah. Dan ulama adalah orang-orang yang punya ilmu ke dalam di bidang ilmu-ilmu syariah.
Dan secara istilah, kata ulama mengacu kepada orang dengan spesifikasi penguasaan ilmu-ilmu syariah, dengan semua rinciannya, mulai dari hulu hingga hilir.
Keutamaan dan Kedudukan Para Ulama
Al-Quran memberikan gambaran tentang ketinggian derajat para ulama,
يَرْفَعِ اللهُ الذينَ آمَنُوا والذينَ أُوتُوا العِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberikan ilmu (ulama) beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah: 11)
Selain masalah ketinggian derajat para ulama, Al-Quran juga menyebutkan dari sisi mentalitas dan karakteristik, bahwa para ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah. Sebagaimana disebutkan di dalam salah satu ayat:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir: 28)
Sedangkan di dalam hadits nabi disebutkan bahwa para ulama adalah orang-orang yang dijadikan peninggalan dan warisan oleh para nabi.
والعلماء ورثة الأنبياء، إن الأنبياء لم يُورِّثوا دينارًا ولا درهمًا ولكنهم وَرَّثوا العلم
Dan para ulama adalah warisan (peninggalan) para nabi. Para nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar (emas), dirham (perak), tetapi mereka meninggalkan warisan berupa ilmu.(HR Ibnu Hibban dengan derajat yang shahih)
Di dalam kitab Ihya’u Ulumud-din karya Al-Imam Al-Ghazali disebutkan bahwa manusia yang paling dekat derajatnya dengan derajat para nabi adalah ahlul-ilmi (ulama) dan ahlul jihad (mujahidin). Karena ulama adalah orang yang menunjukkan manusia kepada ajaran yang dibawa para rasul, sedangkan mujahid adalah orang yang berjuang dengan pedangnya untuk membela apa yang diajarkan oleh para rasul.
Kerancuan Istilah Ulama
Namun istilah ulama di masa kini sering kali menjadi rancu dan tertukar-tukar dengan istilah lain yang nyaris beririsan. Padahal keduanya tetap punya perbedaan mendasar. Misalnya, seorang yang berprofesi sebagai penceramah, seringkali disebut-sebut sebagai ulama, meski tidak punya kapasitas otak para ulama. Kemampuannya di bidang ilmu syariah, jauh dari kriteria seorang ulama.
Penceramah adalah sekedar orang yang pandai berpidato menarik massa, punya daya pikat tersendiri ketika tampil di publik, mungkin sedikit banyak pandai menyitir satu dua ayat Quran dan hadits, tetapi begitu ditanyakan kepadanya, apa derajat hadits itu, ada di kitab apa, siapa saja perawinya, dan seterusnya, belum tentu dia tahu.
Bahkan tidak sedikit penceramah yang buta dengan huruf arab, alias tidak paham membaca kitab berbahasa arab. Padahal sumber-sumber keIslaman hanya terdapat dalam bahasa arab.
Namun penceramah tetap dibutuhkan oleh masyarakat awam, yang betul-betul kurang memiliki wawasan dan pemahaman atas agama Islam. Jadi meski seorang penceramah hanya punya ilmu agama pas-pasan, tetapi tidak ada rotan, akar pun jadilah.
Bahkan terkadang terjadi fenomena sebaliknya, banyak orang yang sudah sampai kepada level ulama, punya ilmu banyak dan mendalam, tetapi kurang fasih ketika berbicara di muka publik. Bahkan boleh jadi figurnya malah kurang dikenal. Sebab beliau tidak mampu berpidato di TV untuk menjaring iklan. Padahal dari sisi ilmu dan kedalamanannya atas kitabullah dan sunnah rasul-Nya, tidak ada yang mengalahkan.
Ulama Satu Bidang Ilmu
Di zaman sekarang ini, nyaris kita tidak lagi mendapatkan ulama dengan penguasaan di berbagai disiplin ilmu syariah. Kita hanya menemukan para ulama yang pernah belajar beberapa bidang ilmu, namun hanya menguasai satu atau dua cabang ilmu.
Misalnya, kita mengenal ada Syeikh Nashiruddin Al-Albani yang tersohor di bidang kritik hadits. Buku yang beliau tulis cukup banyak, namun kita tahu bahwa beliau bukan seorang yang ekpert di bidang lain, misalnya ilmu ushul fiqih, juga bukan jagoan ahli dibidang ilmu istimbath ahkam fiqih secara mendalam.
Kalau mau tahu apakah sebuah hadits itu shahih atau tidak, silahkan tanya beliau. Tetapi kalau tanya kaidah ushul fiqih, tanyakan kepada ulama lain yang ahli di bidangnya. Namun demikian, kita tetap harus hormat dan takzim kepada beliau atas ilmunya.
Ilmu-Ilmu Yang Harus Dikuasai Oleh Ulama
Idealnya, ilmu syariah dan cabang-cabangnya itu harus secara mendalam dikuasai, terlebih olehpara ulama. Sekedar gambaran singkat, di antaranya ilmu-ilmu syariah dan keIslaman yang harus dikuasai seorang ulama antara lain:
1. Ilmu Yang Terkait Dengan Al-Quran
  • Ilmu tajwid yang membaguskan bacaan lafadz AL-Quran
  • Ilmu qiraat (bacaan) Al-Quran, sepertiqiraah-sab’ah yang bervariasi dan perpengaruh kepada makna dan hukum.
  • Ilmu tafsir, yang mempelajari tentang riwayat dari nabi SAW tentang makna tiap ayat, juga dari para shahabat dan para tabi’in dan atbaut-tabi’in.
  • Ilmu tentang asbababun-nuzul, yaitu sebab dan latar belakang turunnya suatu ayat.
  • Ilmu tentang hakikat dan majaz yang ada pada tiap ayat Quran
  • Ilmu tentang makna umum dan khusus yang dikandung tiap ayat Quran
  • Ilmu tentang muhkam dan mutasyabihat dalam tiap ayat Quran
  • Ilmu tentang nasikh dan mansukh dalam tiap ayat Quran
  • Ilmu tentang mutlaq dan muqayyad, manthuq dan mafhum
  • Ilmu tentang i’jazul quran, aqsam, jadal, qashash dan seterusnya
2. Ilmu Yang Terkait dengan Hadits Nabawi
  • Ilmu tentang sanad dan jalur periwayatan serta kritiknya
  • Ilmu tentang rijalul hadits dan para perawi
  • Ilmu tentang Al-Jarhu wa At-Ta’dil
  • Ilmu tentang teknis mentakhrij hadits
  • Ilmu tentang hukum-hukum yang terkandung dalam suatu hadits
  • Ilmu tentang mushthalah (istilah-istilah) yang digunakan dalam ilmu hadits
  • Ilmu tentang sejarah penulisan hadits yang pemeliharaan dari pemalsuan
3. Ilmu Yang Terkait dengan Masalah Fiqih dan Ushul Fiqih
  • Ilmu tentang sejarah terbentuknya fiqih Islam
  • Ilmu tentang perkembangan fiqh dan madzhab
  • Ilmu tentang teknis pengambilan kesimpulan hukum (istimbath)
  • Ilmu ushul fiqih (dasar-dasar dan kaidah asasi dalam fiqih)
  • Ilmu qawaid fiqhiyah
  • Ilmu qawaid ushuliyah
  • Ilmu manthiq (logika)
  • Ilmu tentang iIstilah-istilah fiqih istilah fiqih madzhab
  • Ilmu tentang hukum-hukum thaharah, shalat, puasa, zakat, haji, nikah, muamalat, hudud, jinayat, qishash, qadha’, qasamah, penyelenggaraan negara dan seterusnya.
4. Ilmu Yang Terkait dengan Bahasa Arab
  • Ilmu Nahwu (gramatika bahasa arab)
  • Ilmu Sharaf (perubahan kata dasar)
  • Ilmu Bayan
  • Ilmu tentang Uslub
  • Ilmu Balaghah
  • Ilmu Syi’ir dan Nushus Arabiyah
  • Ilmu ‘Arudh
5. Ilmu Yang Terkait dengan Sejarah
  • Tentang sirah (sejarah nabi Muhammad SAW)
  • Tentang sejarah para nabi dan umat terdahulu dan bentuk-bentuk syariat mereka
  • Sejarah tentang Khilafah Rasyidah
  • Sejarah tentang Khilafah Bani Umayyah, Bani Abasiyah, Bani Utsmaniyah dan sejarah Islam kontemporer.
6. Ilmu Kontemporer
  • Ilmu politik dan perkembangan dunia
  • Ilmu ekonomi dan perbankan
  • Ilmu sosial dan cabang-cabangnya.
  • Ilmu psikologi dan cabang-cabangnya
  • lmu hukum positif dan ketata-negaraan
Ilmu-ilmu populer
Di masa lampau, orang yang disebut dengan ulama adalah orang-orang yang menguasai dengan ahli cabang-cabang ilmu di atas tadi. Namun di zaman sekarang ini, nyaris kita tidak lagi menemukannya.
Maka di zaman sekarang ini, para ulama dari beragam latar belakang keilmuwan yang berbeda perlu duduk dalam satu majelis. Agar mereka bisa melahirkan ijtihad jama’i (bersama), mengingat ilmu mereka saat ini sangat terbatas. Sementara ilmu pengetahuan berkembang terus.
Perbedaan Pendapat di Kalangan UIlama
Masalah perbedaan pendapat di kalangan ulama, barangkali yang anda maksud adalah pendapat fiqih dan fatwa-fatwa.
Sebelum kita memilih pendapat mereka yang menurut anda berbeda-beda, anda harus tahu terlebih dahulu latar belakang keilmuan mereka.
Untuk jawaban masalah hukum fiqih, maka janganlah bertanya kepada ulama hadits, atau ulama tafsir, atau ulama bahasa, atau ulama sejarah. Anda salah alamat. Kalau pun mereka jawab, jawaban mereka tetap kalah dibandingkan dengan jawaban ahlinya.
Misalnya, di Mesir saat ini ada ulama yang berfatwa tentang hukum wanita menjadi kepala negara. Sayangnya, beliau bukan ahli fiqih, tetapi doktor di bidang ilmu pendididikan. Tentu saja fatwanya aneh bin ajaib. Para ulama fiqih tentu terpingkal-pingkal kalau mendengar isi fatwanya.
Masalah fiqih tanyakan kepada ulama yang ahli di bidang ilmu fiqih. Sebab ilmu yang mereka miliki memang lebih menjurus kepada ilmu hukum fiqih.
Faktor Perbedaan Kasus dan Fenomena Sosial
Kalau para ahli fiqih berbeda pendapat, maka anda harus melihat pada konteks ketika mereka menjawab masalah itu. Apakah fatwa yang mereka keluarkan sesuai kondisi sosialnya dengan kondisi sosial di mana anda berada.
Misalnya ketika Syeikh bin Bazz mengeluarkan fatwa haramnya ziarah kubur, maka anda harus tahu bahwa fenomena ziarah kubur di negeri tempat tinggalnya memang sulit untuk dibilang tidak syirik. Sebab orang-orang di sana memang nyata-nyata menyembah kuburan, baik dengan jalan mencium, mengusap, meratap dan meminta rezeki kepada kuburan. Wajar sekali bila Syeikh bin Baz mengharamkan ziarah kubur.
Tetapi fatwa haramnya ziarah kubur versi beliau tidak bisa digeneralisir di semua tempat, yang fenomenanya berbeda.
Kalau di negeri kita ada orang yang ziarah kubur, namun tanpa menyembah dan melakukan hal-hal yang dinilai syirik, maka kita tidak bisa mengharamkannya. Karena ziarah kubur itu sunnah nabi, namun harus dengan cara yang dibenarkan.
Terkadang kesalahan bukan datang dari para ulama, tetapi dari orang awam yang salah kutip dan salah penempatan sebuah fatwa.
Faktor Perbedaan Nash dan Dalil
Terkadang perbedaan pendapat itu dilatar-belakangi oleh perbedaan nash dan dalil. Bila perbadaan pendapat itu memang berangkat dari perbedaan nash, yang oleh para ulama memang sejak dulu sudah menjadi titik perbedaan pendapat, maka kita dibolehkan untuk memilih yang mana saja dari pendapat yang berbeda itu.
Misalnya, ada dua hadits yang sama-sama shahih namun berbeda isi hukumnya. Hadits pertama mengatakan bahwa nabi Muhammad SAW sujud dengan meletakkan lutut terlebih dahulu baru kedua tanggannya. Hadits kedua mengatakan sebaliknya, beliau meletakkan tangan terlebih dahulu baru kedua lututnya. Maka yang mana saja dari hadits ini yang kita pakai, keduanya boleh digunakan. Toh keduanya sama-sama didasari oleh hadits shahih.
Faktor Perbedaan Dalam Menilai Keshaihan Hadits
Ada juga perbedaan pendapat karena perbedaan dalam menilai keshahihan suatu riwayat hadits. Sebab keshahihan suatu hadits memang sangat mungkin menjadi perbedaan pendapat. Seorang Bukhari mungkin saja tidak memasukkan sebuah hadits ke dalam kitab shahihnya, karena mungkin menurut beliau hadits itu kurang shahih. Namun sangat boleh jadi, hadits yang sama justru terdapat di dalam shahih Muslim.
Maka perbedaan dalam menilai keshahihan suatu hadits adalah hal yang pasti terjadi dan lumrah serta wajar.
Seperti dalam kasus hadits bahwa nabi Muhammad SAW diriwayatkan selalu melakukan qunut shalat shubuh hingga akhir hayatnya. Sebagian ulama menerima keshaihannya dan sebagian lainnya menolaknya.
Maka dalam hal ini, kita pun boleh menerima yang mana saja dari kedua pendapat itu, karena masing-masing jelas punya argumentasi yang kuat atas pendapat keshahihan riwayat itu.
Pendeknya, ketika sebuah pendapat dari seorang ulama memang betul-betul telah mengalami proses ijtihad dengan benar, meski pun sering kali tidak sama, maka pendapat yang mana pun boleh kita pakai.
Bahkan meski tidak konsekuen dalam menggunakan pendapat seorang ulama. Kita dibolehkan untuk mengambil sebagian pendapat dari seorang ulama dan dibolehkan juga untuk meninggalkan sebagian pendapatyang lainnya.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ilmu akan hilang jika manusia tidak beramal

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRGFto4j3yhTrkoTHKUHB-rcFB50xZ3t7flWETFYXAjDyaKjpql
Ilmu hilang jika manusia tidak beramal
(Tafsir Surah al-Maidah ayat 66) Jika mereka beramal dengan apa yang diturunkan oleh Allah nescaya Dia menjamin rezeki mereka dengan menurunkan hujan, hasil bumi yang berkat kepada mereka sebagai kurniaan Allah, sebagaimana firman-Nya kepada orang-orang yang beriman yang bermaksud: "Kalaulah penduduk negeri itu beriman dan bertakwa nescaya Kami bukakan kepada mereka keberkatan yang datang dari langit dan bumi." (Surah al-Anfal: 96)
Allah Taala beri keberkatan kepada mereka. Bagaimanapun ada perbezaan antara berkat dan kekayaan. Ada negeri yang kaya raya tetapi tidak ada keberkatan dalam pentadbiran kerajaannya.
Negeri itu kaya tetapi susah dengan banyaknya maksiat dan sebagainya dengan sebab kekayaan yang diperolehi.
Ini menandakan tidak adanya keberkataan dalam kekayaan yang diperolehi itu akibat penyalahgunaan kekayaan untuk tujuan yang bercanggah dengan ajaran Allah SWT.
Sementara perkataan berkat hanya ada dalam Islam sahaja. Dalam ilmu ekonomi Barat tidak ada perkataan berkat. Begitu juga semua sistem atau teori Barat termasuk kapitalisme, liberalisme, nasionalisme, sosialisme, komunisme, dan sebagainya tidak ada persoalan yang berkaitan dengan keberkatan. Apa yang ada ialah persoalan kekayaan, kesenangan dan kemajuan.
Berkat bermakna sekiranya kita kaya, kita menjadi baik dengan kekayaan yang diperolehi. Rezeki yang sedikit membawa kebaikan yang banyak.
Berkat yang dikurniakan oleh Allah apabila seseorang itu beriman dan bertakwa. Ini perkara yang dijanjikan oleh Allah.
Tetapi Allah Taala nyatakan dalam firman-Nya yang bermaksud: "Telah zahir keburukan di darat dan di laut hasil dari kerja yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia supaya dirasakan kepada mereka sebahagian daripada apa yang mereka kerjakan mudah-mudahan mereka kembali kepada Allah." (Suratur Rum: 41)
Senang pada zahirnya tetapi susah pada hakikatnya. Antara lain ialah duit banyak tetapi tidak tahu bagaimanakah cara menggunakannya.
Wang yang digunakan untuk membuat sesuatu, tidak memberi faedah dan tidak mendatangkan pahala serta kebaikan daripada Allah SWT.
Ini adalah janji dari Allah untuk mengurniakan rezeki kepada orang Yahudi. Wahai orang Yahudi, wahai ahlil kitab, masuk Islamlah kamu. Kamu tegakkan Taurat dan Injil, nescaya kamu selamat.
Ramai di kalangan pendita-pendita Yahudi takut masuk Islam. Mereka menyangka Jika masuk Islam mereka akan bertukar perwatakan, yang menjadi pemimpin tidak lagi menjadi pemimpin, dan yang kaya menjadi miskin.
Mereka nampak dunia semata-mata tetapi mereka tidak nampak apakah kebaikan yang akan diperolehi di hari akhirat kelak.
Rasulullah s.a.w. menyatakan kepada orang yang beriman dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hatim bahawa suatu hari Nabi s.a.w. telah bersabda yang bermaksud; "Hampirlah ilmu itu dihilangkan oleh Allah."
Dalam hadis yang lain diriwayatkan bahawa makna menghilangkan ilmu itu ialah dimatikan ahli-ahli ilmu (para ulama). Sementara orang Islam tidak beramal dengan ilmu.
Akibat itu ilmu menjadi hilang dan ilmu yang paling pertama hilang ialah ilmu pembahagian harta pesaka yang menjadikan tanda hampirnya kiamat, sehingga tidak ada seorang pun yang mengetahui cara pembahagian harta pusaka mengikut hukum Islam.
Ada perancangan di peringkat antarabangsa untuk menghapuskan sistem pembahagian pusaka menurut Islam kerana mendakwa kononnya Islam tidak berlaku adil terhadap lelaki dan perempuan dalam pembahagian pusaka.
Akhirnya perancangan itu akan berjaya sekiranya orang Islam tidak mempertahankan hukum Islam. Bila para ulama membisu seribu bahasa, tidak berani menegakkan yang hak, akhirnya Allah Taala menghilangkan ilmu dengan mematikan ulama.
Apabila Nabi s.a.w. mengatakan hampirlah diangkat ilmu, lalu seorang sahabat yang bernama Ziad bin Labit berkata, "wahai Rasulullah, bagaimana diangkatkan ilmu pada hal kami membaca al-Quran dan kami mengajarkannya kepada anak-anak kami."
Dalam satu riwayat yang lain, "kami ajar kepada anak-anak kami, anak-anak kami pula mengajar kepada cucu-cucu kami, cucu-cucu kami mengajar kepada cicit-cicit kami, mana boleh diangkatkan ilmu."
Nabi menjawab dengan sabdanya yang bermaksud; "Apakah engkau ni wahai Ibnu Labit, sesungguhnya aku berpendapat engkaulah orang yang paling faham di kalangan penduduk Madinah. Tetapi di dalam perkara ini kamu tidak memahaminya."
"Tidakkah, Taurat dan Injil berada di tangan orang-orang Yahudi dan Nasara? Taurat dan Injil tidak boleh berbuat apa-apa kepada mereka itu kerana mereka meninggalkan perintah Allah. Allah berfirman yang bemaksud; "kalaulah sekiranya mereka itu menegakkan Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada mereka daripada Tuhan mereka (al-Quran) nescaya mereka itu boleh makan rezeki dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di kalangan mereka itu ada golongan yang sederhana dan kebanyakan mereka itu alangkah buruknya apa yang mereka lakukan." (Surah al-Maidah:66)

Hakikat Penyakit Riak

http://fc03.deviantart.net/fs16/f/2007/148/2/0/islamic_art_by_razangraphics.jpg
Firman Allah dalam surah al-Ma’un ayat 4-6 yang bermaksud:

"Maka celakalah bagi orang yang solat. (Iaitu) orang yang lalai solatnya dan orang-orang yang riak."

Pengertian riak

Riak itu ialah melakukan kebaikan dan amal ibadat semata-mata untuk mencari tempat di dalam hati manusia.
Perkara yang diriakkan oleh manusia;

1. Riak dari segi badan
Riak jenis ini menunjukkan seseorang itu menampakkan keletihannya kerana berpuasa dan banyak berjaga malam untuk beribadat.

2. Riak pada pakaian
Seseorang itu memakai pakaian yang menunjukkan kewarakan dirinya sedangkan hakikatnya tidak. Memakai pakaian sebegini di hadapan golongan tertentu kerana kepentingan diri sedangkan di waktu lain dia bukanlah sebegitu malah hatinya juga bukanlah berniat untuk mendapat keredhaan Allah tetapi mengharap penghormatan daripada orang lain.
3. Riak dengan perkataan
Riak ini adalah seseorang itu menunjukkan dirinya seorang yang benar dan ikhlas melalui perkataan yang keluar dari bibirnya. Tuturnya seperti seorang penasihat dan pensyarah. Dia memilih lafaz-lafaz yang halus dan dalam maknanya juga kata-kata hikmat beserta hadith. Dia juga berkata seperti kata para Nabi dan aulia sedangkan pada hakikatnya dia sebenarnya sunyi dan kosong.
4. Riak pada amalan
Orang sebegini adalah sering menzahirkan khusyuk dalam solat dan sengaja memanjang-manjangkan rukuk dan sujud apabila ada orang melihatnya. Orang seperti ini sering bersedekah secara terang-terangan, pergi menunaikan fardhu haji, berjalan menundukkan kepala dan kurang berpaling ke kanan dan ke kiri padahal Allah mengetahui batinnya. Sedangkan jika dia bersendirian amalannya bukan sempurna sebegitu, seperti solat dengan cepat, berjalan laju dengan matanya sering meliar ke sana ke mari dan sebagainya.
5. Riak dengan ramainya murid dan pengikut
Seseorang itu berasa bangga dengan murid dan pengikut yang ramai. Demikian juga seperti seseorang yang sering menyebut nama ulama’ itu dan ulama’ ini bagi menunjukkan dirinya seorang yang banyak bertemu dengan syeikh dan ulama.

Peringkat Riak

1. Riak Akbar
Riak akbar ialah seseorang itu taat melakukan ibadat tetapi untuk mendapatkan sesuatu daripada manusia dan bukanlah untuk beroleh keredhaan Allah SWT. Riak ini adalah berpaling terus daripada Allah pada keseluruhannya kerana hanya berkiblatkan manusia.
2. Riak Asghar
Riak asghar ini pula ialah melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang ada pada manusia dan apa yang pada Tuhan iaitu melakukan amal kerana Allah dan kerana yang lain daripada-Nya. Riak ini adalah lebih ringan daripada riak akbar kerana orang itu menghadap Allah pada satu segi dan kepada manusia pada satu segi yang lain.
3. Riak Jali (yang terang)
Riak ini ialah mendorong seseorang itu untuk melakukan amal ibadat. Sehinggakan jika tanpa riak ini dia tidak berminat untuk melakukan amal.
4. Riak Khafi (yang tersembunyi)
Riak ini pula tersembunyi di dalam hati di mana ianya mendorong seseorang itu untuk lebih rajin beribadat.

Punca Riak

Sebab-sebab yang boleh membawa kepada penyakit riak ini antaranya ialah;
1. Sifat suka dipuji oleh orang lain.
Sifat ini akan membawa kepada bangga diri dan suka menunjuk-nunjuk kelebihan kepada orang lain.
2. Takut dikritik atau dicerca oleh orang lain.
Ketakutan ini boleh membawa kepada penampilan yang kurang jujur dan suka berpura-pura.
3. Cintakan kehidupan dan kemewahan dunia dan lupa pada kematian.
Seseorang itu melakukan segala pekerjaan adalah semata-mata kerana untuk menarik perhatian orang lain, dan menganggap dirinya hebat. Manusia sebegini mengharapkan ganjaran atas segala pekerjaan yang dilakukan.

Bagaimana mengelakkan sifat riak?

Rawatan terbaik bagi segala penyakit di muka bumi ini adalah dengan menjauhi sebab-sebab dan punca terjadinya penyakit.
Terdapat beberapa cara untuk menghindari sifat riak daripada menguasai hati;
1. Sentiasa mengingatkan diri sendiri tentang perkara yang diperintahkan Allah dan juga sering menyucikan hati dengan melakukan ibadat-ibadat khusus seperti zikir dan membesarkan kekuasaan Allah.
2. Mengawasi diri agar sentiasa takut akan kemurkaan Allah. Dengan ini akan membawa diri agar sentiasa berwaspada dalam melakukan perkara yang boleh mengheret kepada dosa dan seksaan Allah pada hari akhirat kelak.
3. Berwaspada terhadap perkara-perkara yang boleh menghapuskan pahala amalan yang dilakukan akibat riak.
4. Menanamkan di dalam diri bahawa melakukan sesuatu perkara kerana manusia sehingga membawa kemurkaan Allah itu patut dijauhkan.
5. Sentiasa mengawasi diri daripada lalai terhadap ujian dan nikmat yang dikurniakan Allah untuk menghampirkan diri kepada Allah.
6. Ikhlaskan diri dalam setiap amalan yang dilakukan. Apabila berasa suka dipuji dan diberi penghargaan setiap kali membuat sesuatu perkara yang baik dan berasa terhina apabila ditegur, maka inilah tanda wujudnya sifat riak.
Adakalanya terdapat juga orang yang melakukan amal kebajikan dengan niat ikhlas kerana Allah, namun dia mendapat mendapat perhatian daripada orang lain atas amalannya. Keadaan ini tidak diambil kira sebagai riak kerana dia sememangnya niat dengan ikhlas pada awalnya. Namun, untuk melakukan satu-satu ibadat pada permulaannya akan menyebabkan timbulnyaperasaan riak dan rasa bangga diri, namun apabila amal itu sering dilakukan dan berterusan dengan niat ikhlas pastinya perasaan riak itu akan terhapus sedikit demi sedikit.
Janganlah takut untuk pergi ke masjid, mendengar tazkirah, menunaikan solat jemaah dan sebagainya kerana takut akan dikatakan riak sedangkan dengan riak itulah akan mendorong dan menggalakkan kita untuk beramal dan meningkatkan ibadat. Tetapi, jangan biarkan perasaan riak itu terus menerus menguasai diri kerana apabila ada riak dalam setiap amalan maka amalan yang dilakukan adalah sia-sia belaka.