"Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (Al-Baqarah: 169).
“Wahai orang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.” (Surah al-Hujurat, ayat 6)
Di kemaskini post pada 31/7/2015 Pada jam 23:40pm Kuala Lumpur

Friday, May 11, 2012

Kesalahan dalam Memahami Istighfar


Ramai orang  menyangka bahawa seseorang yang telah melakukan suatu kesalahan kemudian ia membaca astaghfirullah(aku memohon ampun kepada Allah) akan hilanglah dosanya dan ia merasa bebas melakukan apa saja.

pernah seorang ahli fiqih bertanya kepadaku,"Aku pernah melakukan suatu perbuatan maksiat.Lalu aku membaca subhanallahu wabihamdih sebanyak seratus kali.Sudah pasti Allah mengampuni semua dosaku,sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw:

"Barangsiapa setiap hari membaca Subhanallahu wabihamdihi sebanyak seratus kali,maka akan diampuni segala kesalahannya meskipun dosanya sebanyak buih di lautan."

Penduduk Kota Makkah ada yang berkata kepadaku,"Jika kami melakukan suatu kemaksiatan,kemudian kami mandi,lalu melakukan thawaf di Baitullah selama satu minggu,maka dosa kami telah diampunni."

Ada lagi orang bertanya kepadaku,Sesungguhnya Nabi saw,talah bersabda:
"Jika seorang manusia telah melakukan perbuatan dosa kemudian ia berkata,'Wahai Tuhanku,aku telah melakukan perbuatan dosa.Ampunilah aku.'Maka Allah akan mengampuninya.Setelah beberapa saat,ia melakukan dosa lagi lalu ia berkata,'Wahai Tuhanku,aku telah melakukan dosa lagi.kerana itu,ampunilah dosaku,'Allah SWT kemudian berfirman,'Hamba-Ku ini telah mengetahui bahawa ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa yang menyeksanya sebab perbuatan dosa.Sungguh Aku telah mengampuni hamba-Ku,'Maka ia melakukan perbuatan sesuka hatinya.'

Orang tersebut kemudian berkata,'Aku yakin bahawa aku mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan menyeksanya sebab perbuatan dosa tersebut.'
Orang-orang di atas termasuk kelompok yang selalu menggantungkan dirinya dengan ketentuan-ketentuan yang dapat memberikan harapan,selalu menggantungkan dirinya dengan kedua belah tangannya.Apabila dicela kerana kesalhan-kesalahan dan perbuatannya dalam melakukan dosa,dengan segala senang hati ia akan membacakan kepada Anda dalil yang ia hafal yang menjelaskan betapa luasnya rahmat Allah dan ampunan Allah.Orang-orang bodoh ini ada yang  mempunyai sikap pelik dan sebagaimana dijelaskan oleh sebahagian mereka-berkata " Aku tidak segan melakukan dosa-dosa jika datang kepada seorang pemurah,"Yang lain mengatakan,"Membersihkan diri dari dosa bererti ketidaktahuaan dakan luasnya ampunan Allah."Dan yang lain lagi juga mengatakan,"Meninggalkan perbuatan dosa merupakan penghinaan atas keampunan Allah."Muhammad bin Hazm berkata,Aku pernah melihat sebahagian mereka berdoa,"Y a Allah~Aku memohon perlindungan kepada-Mu dari terhindar melakukan dosa,"Sangat menyesatkan perilaku mereka.Mereka orang-orang yang tertipu dan berbahaya..

Jenis Cinta Ada 4macam cinta yang perlu Dibezakan



Sungguh sesat orang yang tidak dapat membezakan keempat jenis cinta tersebut:

Pertama:,cinta kepada Allah.Hanya dengan mencintai Allah sahaja tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari seksa-Nya dan tidak akan memperoleh pahala-Nya,kerana orang-orang musyrik,para penyembah salib dan sebagainya,mereka juga mencintai Allah.

Kedua,mencintai apa yang dicintai Allah.Inilah yang dapat memeasukkan seseorang dalam Islam dan mengeluarkannya dari kefakiran.Orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling kuat dan paling teguh memegang kecintaan ini.

Ketiga,cinta kerana Allah dan mengharapkan redha-Nya.Ini merupakan persyaratan dari mencintai segala apa yang dicintai Allah,kerana hal tersebut tidak akan dapat berhasil dengan baik tanpa ada redha dari Allah dan dilakukan kerana Dia.


Keempat,mencintai Allah juga mencintai yang lain sejajar dengan mencintai-Nya.Inilah cintanya orang musyrik.Barangsiapa mencintai sesuatu sebagaimana ia mencintai Allah,yang ia lakukan bukan kerana Allah dan bukan kerana mencari redha-Nya,maka ia telah menjadikan sesuatu sebagai tandingan Allah,Inilah kecintaan yang dilakukan orang-orang musyrik.


Ada lagi jenis Cinta yang kelima,tapi tidak termasuk dalam hal yang di senaraikan di atas ini..iaitu Cinta naluri.Cinta naluri adalah kecenderungan seseorang terhadap sesuatu yang sesuai dengan tabiatnya seperti cintanya orang yang haus pada air,kecintaan orang yang lapar kepada makanan,cinta tidur,isteri,dan anak cucu.Cinta semacam ini tidak tercela selama tidak melupakan Allah dan emengurangi kecintaan kita kepada-Nya,sebagaimana Firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman,janganlah harta-hartamu dan anank-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah(Qs A-l-Munafiqun[63]:9)

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak(pula)oleh jual belinya dari mengingat Allah(Qs An-Nur[24]:34)

Cara bijak daripada Rasulullah SAW mengawal perasaan marah


http://www.albetaqa.com/waraqat/06rqa2eq/002/rqa2eq0106.jpg
Dalam kompleksitas kehidupan, manusia sering kali dihadapkan pada suatu masalah yang memaksanya untuk memilih, apakah menghadapinya dengan penuh ketenangan atau menyikapinya dengan amarah dan penuh emosi.
Secara etimologis, kata ‘emosi’ adalah terjemahan dari bahasa Arab, al-ghadlab. Dalam Alquran, kata al-ghadlab, dengan perubahan bentuk kata, jumlahnya tak kurang dari 24 kali. Dari sekian banyak ayat tersebut, kata al-ghadlab lebih banyak dikaitkan kepada Allah sebagai Sang Khalik. Hanya sedikit ayat yang mengaitkan al-ghadlab dengan manusia. Itu pun bukan terhadap manusia biasa, tetapi terhadap Nabi Musa AS. “Dan, tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati, ia pun berkata, ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku.’” (QS al-A’raf [7]: 150).
Dalam ayat itu, disebutkan pula bahwa Nabi Musa sempat menarik rambut saudaranya sendiri, Nabi Harun, karena saking marah dan emosinya. Tentang sikap marahnya Nabi Musa, juga dibadikan dalam surah Taha [20]: 86 dan tentang redanya emosi tersebut juga diabadikan dalam surah al-A’raf [7]: 154.
Diceritakan dalam sebuah hadis bahwa seorang sahabat datang tergopoh-gopoh menghadap Nabi SAW untuk meminta nasihat. Nabi menjawab, “La taghdlab”, hindari sikap marah (emosi). Nabi SAW mengulangi nasihatnya sebanyak tiga kali.
Hadis ini cukup menjadi bukti bahwa manusia sering kali terjebak dalam keadaan emosi atau marah yang berkepanjangan hingga tidak ada peluang bagi orang lain untuk meminta maaf. Karena itu, wajar bila Nabi SAW mengulangi nasihatnya sebanyak tiga kali.
Bagaimana menguasai marah atau me-manage emosi? Nabi SAW pernah memberikan petunjuk. “Jika kamu marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan duduk, berbaringlah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan berbaring, segera bangkit dan ambil air wudu untuk bersuci dan lakukan shalat sunah dua rakaat.”
Betapa bijaknya nasihat Rasul SAW di atas. Sebab, ketika manusia sedang marah, ia mengalami dua hal. Pertama, ketegangan syaraf, terutama syaraf otak. Kedua, dirinya sedang bergelut dengan sebuah kekuatan hawa nafsu yang mahadahsyat. Dalam pandangan agama, hawa nafsu itu dipersonifikasikan dengan kekuatan setan.
Maka, ajaran Nabi SAW tentang perubahan gerakan fisik dari berdiri kepada duduk dan dari duduk kepada berbaring bertujuan untuk melenturkan dan meredakan (relaksasi) ketegangan syaraf otak dan syaraf-syaraf lainnya. Jika gerakan fisik juga tidak mampu meredakan emosi, Nabi SAW berpesan agar segera berwudu dan mendirikan shalat dua rakaat. Tujuannya, segera berlindung kepada kekuatan Allah untuk mengusir kekuatan setan yang terbungkus dalam bentuk sikap marah dan emosi. Wa Allahu A’lam.
Rujukan :
http://www.bijak.web.id/